HAKIKAT SINTAKSIS (PENGERTIAN, ALAT, DAN SATUAN SINTAKSIS)
HAKIKAT SINTAKSIS
Sintaksis merupakan salah satu cabang dari ilmu linguistik yang kajiannya mencakup seluk-beluk tata bahasa dalam satuan kalimat. Sintaksis dalam bahasa Belanda syntaxis, dalam bahasa Inggris syntax, dan dalam bahasa Arab nahu adalah ilmu bahasa yang membicarakan hubungan antarunsur bahasa untuk membentuk sebuah kalimat. Dalam bahasa Yunani sintaksis disebut sintaksis suntattein yang berarti sun ‘dengan’ dan tattein ‘menempatkan’. Secara etomologis istilah tersebut berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata (frasa) atau kalimat dan kelompok-kelompok kata (frasa) menjadi kalimat. Oleh karena itu, dalam bahasa Indonesia, sintaksis disebut dengan ilmu tata kalimat.
Sintaksis bersama-sama dengan morfologi merupakan bagian dari tatabahasa atau gramatika. Jika dalam bidang morfologi dibicarakan tentang morfem, kata, dan pembentukan kata, maka dalam sintaksis dibicarakan tentang frasa, klausa, dan kalimat sebagai kesatuan-kesatuan sistemisnya. Satuan frasa terdiri atas unsur-unsur yang berupa kata; satuan klausa terdiri atas unsur-unsur yang berupa frasa; dan satuan kalimat terdiri atas unsur-unsur yang berupa klausa. Sebagai bagian dari ilmu bahasa, sintaksis berusaha menjelaskan hubungan antara unsur-unsur satuan tersebut baik berdasarkan hubungan fungsional maupun hubungan makna.
1. Pengertian Sintaksis
Sintaksis sebagai bagian dari ilmu bahasa, mempersoalkan hubungan antarkata dengan satuan-satuan yang lebih besar dalam suatu konstruksi yang disebut kalimat.
Sintaksis, dilihat dari sudut pandang linguistik, sebenarnya memiliki cakupan kajian yang sama dengan analisis morfologi. Keduanya sama-sama mengkaji mengenai tata bahasa. Jika dalam morfologi mengkaji dengan melihat hubungan gramatikal yang ada pada kata-kata hingga kalimat maka sintaksis mengkaji hubungan gramatikal di luar batas kata dalam satuan kalimat.
Miller (2002: 6) menuliskan: syntax has to do with how words are put together to build phrases with how phrases are put together to build clauses or bigger phrases and how clauses are put together to build sentences yang artinya sintaksis berarti hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana kata-kata disatukan bersama untuk membentuk frasa-frasa, frasa-frasa kemudian disatukan bersama untuk membuat klausa atau frasa yang lebih panjang, klausa lalu dibentuk untuk membuat kalimat.
Zaenal Arifin (2015: 60) mengemukakan bahwa sintaksis adalah cabang lingustik yang menyangkut susunan kata-kata di dalam kalimat. Susunan kata itu harus linier, tertib dan tentu harus bermakna. Sementara itu A. Chaer (2015: 19) menyatakan bahwa sintaksis menguraikan atau menganalisis sebuah satuan bahasa yang dianggap “paling besar” yaitu kalimat, diuraikan atas klausa-klausa yang membentuk kalimat itu. Lalu, klausa diuraikan atas frasa-frasa yang membentuk klausa itu; dan frasa diuraikan atas kata-kata yang membentuk frasa itu. Tentunya tidak dapat dipungkiri bahwa di atas kalimat masih terdapat unsur lainnya yaitu wacana.
Memahami beberapa pengertian sintaksis di atas bisa dikatakan bahwa kajian utama dari sintaksis adalah kalimat. Di dalam kalimat sendiri terdapat beberapa unsur di dalamnya seperti kata, frasa, dan klausa. Unsur di dalam kalimat inilah yang termasuk ke dalam objek kajian sintaksis atau satuan sintaksis.
2. Alat dan Satuan Sintaksis
Pada dasarnya pembicaraan yang lebih mendalam dalam studi sintaksis adalah satuan-satuan sintaksis. Dalam tataran gramatikal, kata merupakan satuan terkecil dalam sintaksis yang dapat berdiri sendiri dan telah memiliki makna. Sedangkan dalam tataran morfologi, kata menjadi satuan terbesar dalam proses pembentukannya (kata dibentuk dari bentuk dasar yang dapat berupa morfem dasar terikat ataupun morfem bebas, gabungan morfem) dengan proses morfologis seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi.
Alat sintaksis yang sangat penting dalam menentukan berterimanya kalimat dalam Bahasa Indonesia adalah urutan kata, bentuk kata, penggunaan kata tugas, dan intonasi. Kata sebagai bentuk bermakna yang berdiri sendiri, dapat berada di posisi awal, tengah atau akhir dalam kalimat sepanjang maknanya bisa diterima secara gramatikal.
Urutan kata adalah letak atau posisis kata yang satu dengan yang lain dalam suatu konstruksi sintaksis. Dalam bahasa Indonesia urutan kata itu sangat penting. Perbedaan urutan kata dapat menimbulkan perbedaan makna. Misalnya jam lima dengan lima jam. Jam lima menyatakan waktu, sedangkan lima jam menyatakan masa waktu yang lamanya 5x60 menit. Setiap pemakaian bahasa tidak boleh seenaknya menempatkan kata dalam kalimat, tetapi harus mengikuti tataurut tertentu. Perubahan urutan kata dapat mengubah makna kalimat, bahkan dapat mengaburkan makna kalimat.
Urutan kata dalam bahasa Indonesia menjadi penting, maksudnya urutan kata boleh dipindahkan asalkan maknanya tepat dalam bahasa Indonesia. Misalnya kata kemarin dan kata dengan gembira dalam kalimat.
- kata kemarin
(1) Saya kemarin terjatuh dari sepeda motor.
(2) Saya terjatuh dari sepeda motor kemarin.
(3) Kemarin saya terjatuh dari sepeda motor.
- Kata dengan gembira
(1) Dia bertamu ke rumah temannya dengan gembira.
(2) Dengan gembira dia bertamu ke rumah temannya.
(3) Dia dengan gembira bertamu dia ke rumah temannya.
Bandingkan dengan kalimat berikut ini.
(1) Ayah sedang membaca koran.
(2) Koran sedang membaca Ayah.
(3) Ayah membaca koran sedang
Bentuk kata merupakan hal penting dalam kajian sintaksis, karena menunjukkan keberterimaan maknanya dalam bahasa Indonesia. Selain bentuk kata, maka afiksasi, preposisi, kata tugas, dan intonasi menjadi sesuatu yang penting agar kalimat bahasa Indonesia menjadi bermakna. Hal itu dapat dilihat dalam kalimat berikut.
(1) Jangan kau pergi Medan sama anak tak tahu diri itu.
Kalimat tersebut belum sempurna tanpa kehadiran preposisi (ke) pada kata Medan menjadi ke Medan, afiksasi dalam bentuk prefiks (awalan) ber- pada kata sama sehingga membentuk kata bersama, begitu juga anak tak tahu diri itu memerlukan kata tugas (kata penghubung) yang sehingga menjadi anak yang tak tahu diri itu, kalimat tersebut merupakan kalimat yang berisi larangan maka diberi intonasi (!) pada akhir kalimat. Sehingga terbentuklah kalimat yamg sempurna dan harmoni.
(2) Jangan kau pergi ke Medan bersama anak yang tak tahu diri itu!
Jika alat sintaksis yang sangat penting dalam menentukan bisa diterimanya kalimat dalam bahasa Indonesia adalah urutan kata, bentuk kata, penggunaan kata tugas, dan intonasi maka satuan terbesar dari kata yang umum dibicarakan dalam sintaksis berturut-turut adalah frasa, klausa, dan kalimat.
Kridalaksana (2008:59) menyatakan bahwa frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif; gabungan itu dapat rapat, renggang: misalnya gunung tinggi adalah frasa karena merupakan konstruksi nonpredikatif; konstruksi ini berbeda dengan gunung itu tinggi yang bukan frasa karena bersifat predikatif. Klausa menurut Kridalaksana (2008:111) adalah satuan gramatikal berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri dari subjek dan predikat, dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat. Klausa dan Kalimat dalam banyak hal tidak terlalu berbeda, karena yang membedakannya adalah penggunaan intonasi akhir atau tanda baca. Kita dapat menyatakan bahwa klausa dan kalimat merupakan konstruksi sintaksis yang sama-sama mengandung unsur predikasi. Bahkan kalau diperhatikan lebih seksama contoh di atas, maka yang membedakan klausa dan kalimat adalah penggunaan tanda baca/intonasi akhir dalam kalimat.
Perhatikan contoh berikut.
(1) meja hijau (frasa)
(2) perkara itu dibawa ke meja hijau (klausa)
(3) Perkara itu dibawa ke meja hijau. (kalimat)
DAFTAR PUSTAKA
Arifin,
Zaenal. (2015). Asas-asas Linguistik Umum.
Tangerang: PT. Pustaka Mandiri.
Chaer,
Abdul. (2015). Sintaksis Bahasa
Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta.
Kridalaksana,
Harimurti. (2008). Kamus Linguistik. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Miller,
Jim. (2002). An Introduction to
English Syntax. Edinburgh: Edinburgh University Press.

Komentar
Posting Komentar